Pernah nggak sih kamu terpikir, bagaimana ya cara astronot yang beragama islam menentukan arah kiblat ketika sedang bertugas di luar angkasa? Mengingat ibadah salat adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan, meski sedang tidak berada di bumi sekalipun. Salat adalah rukun islam yang kedua yang artinya setiap muslim harus tunaikan. Lantas bagaimana jika sedang berada di luar angkasa dan harus beribadah salat?

Sebelum membahas tentang bagaimana cara para astronot menentukan arah kiblat ketika sedang berada di luar angkasa, mari kita cari tahu dulu ada berapa dan siapa saja sih astronot muslim yang sudah sukses menginjakkan kaki ke luar angkasa? Berikut profil mereka dikumpulkan dari berbagai sumber.

Sultan bin Salman Al Saud, astronaut Arab dan muslim pertama

Pada 17 hingga 24 Juni 1985, Sultan bin Salman Al Saud bersama dengan beberapa rekan astronot lainnya berhasil mengangkasa di orbit rendah Bumi. Kala itu dia sedang dalam misi luar angkasa STS 51-G dengan menggunakan pesawat ulang-alik Discovery. Dalam tugasnya ini ternyata Sultan bin Salman Al Saud ini tetap melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan idul fitri loh.

Muhammad Faris, orang Suriah pertama

Jika Sultan bin Salman Al Saud adalah orang Arab dan muslim pertama, maka Muhammad Faris adalah muslim dan orang Suriah pertama yang pergi ke luar angkasa. Ia menjalankan sebuah misi bernama Mir EP-1 pada tanggal 22 Juli 1987. Muhammad Faris memiliki latar belakang lulusan sekolah pilot militer di Akademi Militer Suriah. Ia bergabung dengan angkatan udara dan mencapai jabatan Kolonel. Di tahun 1985, ia adalah satu dari dua kandidat asal Suriah untuk program penerbangan luar angkasa hingga akhirnya terpilih untuk mengangkasa.

Musa Manarov, habiskan 541 hari di luar angkasa

Sama seperti dua astronot di atas, Musa Manarov juga muslim pertama di negaranya yang berhasil pergi ke luar angkasa. Musa Manarov diketahui berkebangsaan Azerbaijan. Ia diketahui menjalankan misi Mir EO-3 pada tahun 1987. Tak hanya itu, di tahun 1990 ia kembali mengangkasa dengan membawa misi Soyuz TM – 11.

Abdul Ahad Mohmand, awalnya hanya kosmonot cadangan

Kisah Abdul Ahad Mohmand sedikit berbeda dengan astronot muslim sebelumnya. Ia awalnya adalah cadangan kosmonot dari Mohammad Dauran Ghulan Masum untuk misi Mir EP-3. Namun Masum kemudian didiskualifikasi karena mengalami radang usus buntu. Mohmand kemudian menyelesaikan pelatihan kosmonot dan terpilih untuk mengangkasa bersama dua kru lainnya yaitu Vladimir Lyakhov dan Valery Polyakov. Abdul Ahad Mohmand ini juga merupakan orang Afghanistan pertama yang pergi ke luar angkasa.

Toktar Aubakirov, sukses ke luar angkasa tanpa sertifikat kosmonot

Toktar Aubakirov ini adalah orang Kazakhstan pertama yang menjalankan misi luar angkasa. Tepatnya di 4 November 1994, ia menjalankan misi Soyuz TM-13. Uniknya, Aubakirov ini pergi ke luar angkasa tanpa tersertifikasi sebagai kosmonot.

Bagaimana cara astronot menentukan arah kiblat di luar angkasa?

Salat adalah satu dari lima rukun islam, yang artinya wajib bagi setiap umat Islam untuk melaksanakannya. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana seorang astronot yang beragama islam ketika berada di luar angkasa? Sebelum sampai pada jawaban, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa bagi seorang muslim ada tiga hal yang penting untuk ibadah salatnya. Yakni arah kiblatnya, sistem pembagian waktu dan juga sistem penanggalan untuk bulan-bulan dalam kalender.

Marufin Sudibyo selaku Pembimbing dan Pendamping Forum Kajian Ilmu Falak Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak mengatakan bahwa ketika seorang astronot muslim mengangkasa, baik majelis ulama di Arab Saudi atau Malaysia tentu sudah membekali mereka dengan tata cara melaksanakan ibadah selama di ruang angkasa. “Tata cara tersebut yang dapat digunakan (dengan ekstrapolasi tertentu) manakala kelak manusia sudah menjelajahi Mars,” ungkapnya pada Kompas.com.

Marufin juga menjelaskan, apabila misalnya seorang muslim singgah di Mars sebagai contoh, maka arah kiblat salatnya akan ditentukan dari titik koordinat bumi yang diubah ke dalam sistem azimuth. Karena itu, mungkin saja waktu salat di Mars akan berubah-ubah karena bergantung pada koordinat bumi tersebut.

Di manapun seorang muslim berada, Ka’bah adalah patokan serta pusat yang bisa dipakai sebagai arah kiblat untuk salat. Ini berlaku untuk di manapun seorang muslim berada namun tetap masih di Bumi. Sedang untuk muslim seperti astronot yang sedang bertugas di angkasa, maka akan diberikan cara tersendiri agar tetap bisa beribadah selagi mengangkasa.