Risty dan Stuart

Enam hari berselang setelah dilaksanakannya prosesi lamaran antara Risty dan Stuart membuat keduanya mantap menjatuhkan hari H di tanggal 19 April mendatang. Nama keduanya yang masih santer menjadi berita ini tak pelak harus maraton dalam mempersiapkan semuanya. Enam hari berjalan enam hari pula lah mereka berrgotong-royong untuk melakukan banyak hal terkait pernikahan, salah satunya menyurvei tempat. Dan sampai sekarang persiapan mereka terhitung baru 50%.

Dengan pemberitaan yang sering berhembus dalam 3 hari belakangan ternyata sedikit membantu persiapan keduanya juga. Risty mengaku bahwa banyak kerabat dan sahabat yang mengubunginya lewat whatsapp untuk diundang. Ia juga menambahkan bahwa ini semua berkah dan semoga semakin banyak yang datang maka semakin banyak pula yang mendoakan.

Risty dan Stuart
Risty dan Stuart [via]
Dari total 50% persiapan yang mereka lakukan, ternyata tempat masih menjadi kendala. Hingga kini keduanya masih belum mendapatkan lokasi yang cocok. Namun begitu, Risty juga menambahkan bahwa desain undangan sudah rampung serta berita miring belakangan justru menjadi support juga dengan menganggap pilihan yang mereka lakukan adalah benar.

Meski masih berkendala dalam pemilihan tempat tapi bukan berarti keduanya tak memiliki kandidat satupun. Mereka sepakat untuk mengadakan acara terbuka dengan tujuan agar membaur dengan pihak keluarga karena keduanya menginginkan suasana khidmat bisa dirasakan kedua keluarga.

“Tempat beberapa pilihan,” tutur Risty. “Kemarin kita survey, dari outdoor, indoor,” timpal Stuart. “Tempat masih tentative. Akad sangat Islami, keluarga inti, benar-benar merasakan khidmat. Stuart orang inggris, kita mau berbaur,” tambah ibunda Arsen itu.

Jika ditilik dari kesimpulan persiapan diatas kedua pasangan muda ini tengah menyiapkan konsep family gathering yang tentu saja bernuansa Islami, Johan Tagor selaku ayah kandung Risty juga siap menikahkan putrinya dengan Stuart yang akan mengenakan Dresscode putih di pernikahan nanti. Stuart juga menambahkan bahwa pelaminan ditiadakan agar para undangan bisa masuk dan bersilaturahmi.

“Nggak ada pelaminan. Akhirnya kita mikir kenapa nggak berbaur saja, ada yang masuk ngobrol. Sekalian silaturahmi,” pungkas Stuart Ahmad Sahroni